Pondok Wali Barokah Tak Khawatir Pemadaman Listrik PLN karena Punya PLTS

PLTS dengan instalasi berukuran 40 meter x 41 meter di pondok pesantren Wali Barokah di Kediri, Jawa Timur.
PLTS dengan instalasi berukuran 40 meter x 41 meter di pondok pesantren Wali Barokah di Kediri, Jawa Timur.

Mati listrik tentunya merepotkan, selain akan sangat kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, blackout juga dinilai dapat merugikan konsumen dan pelaku usaha. Lain halnya dengan Pondok Pesantren Wali Barokah LDII di Kediri tidak khawatir jika terjadi pemadaman listrik oleh PLN sebab pondok tersebut telah menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Pengembangan PLTS yang terbesar di Indonesia untuk ponpes ini merupakan bentuk pemanfaatan dan penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Pimpinan Ponpes Wali Barokah KH Soenarto mengaku pihaknya ingin mensyukuri anugerah Allah berupa sinar matahari, menjadikan energi listrik untuk menerangi pondoknya. Sehingga terjadi penghematan biaya pengelolaan pondok secara signifikan. 

Indonesia adalah negara tropis, sehingga energi matahari tersedia sepanjang tahun. Dari perspektif religius, penggunaan energi matahari merupakan manifestasi kesyukuran kepada Allah yang mengkarunia Indonesia dengan sinar matahari yang tak ternilai harganya.

Untuk kebutuhan sehari-hari, ponpes Wali Barokah menggunakan listrik tenaga surya. Ponpes hanya menggunakan listrik dari PLN dan mesin genset jika darurat saja.

Kemudian kegiatan belajar mengajar di pondok juga dirasakan semakin nyaman. Pengeras suara dan lampu digunakan agar para santri dapat mendengarkan penjelasan guru dengan jelas. Serta kipas angin agar para santri tidak gerah saat menerima pelajaran.

“Untuk ke depannya ada pemikiran menjadikan ponpes ini, sebagai wisata religi dan edukasi teknologi PLTS. Sehingga menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerapan energi baru terbarukan,” kata KH Soenarto.

Menurut pakar PLTS, aplikator PLTS di Ponpes Wali Barokah, Horisworo, dengan pertimbangan untuk memberikan manfaat yang lama, dana yang terkumpul secara gotong royong warga LDII tersebut dibelikan panel surya (Solar Cell) yang premium grade buatan Kanada.

Pembangkit listrik tersebut dirancang dan dikelola para alumni pondok yang mahir di bidangnya. Dengan anggaran Rp 10 miliar, mereka memasang PLTS di Rooftop Wali Barokah berukuran 41 x 40 meter dengan 640 panel.

“Dalam Lima jam pancaran sinar matahari tiap hari, PLTS itu mampu menampung 220 kilowatt. Selain itu PLTS tersebut juga dilengkapi 40 baterai penyimpanan energi listrik dari PLTS untuk malam hari. Dengan kapasitas 50 ribu watt,” kata Horisrowo yang juga alumni Wali Barokah.

Dengan 4 ribu santri yang bermukim, awalnya ponpes harus mengeluarkan biaya Rp 125 juta untuk membayar tagihan listrik PLN setiap bulannya. Namun sejak memanfaatkan tenaga surya mereka mampu menghemat pengeluaran hingga Rp 50 juta.

Leave a Reply