Pembelajaran di Zaman Now

pembelajaran di era sekarang now generus indonesia
Ilustrasi guru mengajari siswa. Foto: Shutterstock.com

Teknologi kini dipandang sebagai sesuatu yang mendukung hidup manusia. Hampir semua aspek kehidupan manusia dibantu dan dipermudah dengan bantuan teknologi termasuk dalam hal pendidikan. Hal ini mempengaruhi perbedaan pendidikan di zaman dahulu dengan sekarang, sebagai berikut:

Lingkungan

Ada banyak hal yang bergeser seiring dengan perkembangan zaman, terutama di era digital. Kegiatan belajar mengajar dipresepsikan sebagai kegiatan dimana murid dan guru bertemu dalam satu ruang kelas. Dulu, memang begitulah proses kegiatan belajar mengajar secara resmi. Namun, dengan adanya teknologi, siswa sudah bisa belajar dimana saja dan kapan saja mereka mau karena sumber pengetahuan dapat dicari secara instan lewat internet.

Betapa mudahnya informasi diakses oleh anak-anak dan generasi muda masa kini. Jika dulu informasi didapatkan dari media konvensional seperti koran dan televisi, kini kids zaman now bisa mengaksesnya hanya dari genggaman tangan, alias smartphone.

Informasi tersebut tentunya tak hanya hiburan, tapi juga ilmu yang berguna untuk pendidikan. Anak bisa belajar IPTEK dengan cara yang lebih menyenangkan dan interaktif lewat teknologi. Mereka tak lagi hanya duduk menyimak guru yang mengajar di depan kelas.

Dengan adanya perkembangan teknologi pun ikut mempengaruhi perubahan-perubahan.

pembelajaran-di-era-sekarang-generus-indonesia

Siswa dan Pendidik

Generasi berubah, siswa pun ikut berubah. Sebelum internet mulai populer, siswa memang agak kesulitan mencari sumber informasi tambahan untuk keperluan belajar. Mereka harus rajin membaca buku ke perpustakaan, membaca koran, atau sekadar bertanya pada guru. Tapi sekarang, siswa bisa mendapat informasi tambahan lewat video dan materi di internet.

Jika murid sekarang adalah generasi Z, mereka lebih aktif, cepat mencari informasi, sedangkan guru atau pengajarnya atau bahkan dosennya adalah generasi-generasi sebelumnya, yakni generasi Y yang lahir pada kisaran 1977-1995, generasi X yang berkisar 37-52 tahun atau generasi baby boomers yang kisaran usianya 52-70 tahun.

Tentunya antar generasi memiliki ciri masing-masing dan sangat berbeda satu sama lain. Jika generasi sebelum X dan baby boomers adalah generasi ‘pejuang’, artinya dalam mendapatkan sesuatu harus proses panjang dan tidak terlalu memahami teknologi, sedangkan generasi Y sudah memahami teknologi dan mampu mempersingkat proses dalam mencapai suatu hal.

Antara guru dan siswa yang memiliki age gap, jangan sampai terjadi ketidakpahaman dalam proses belajar. Pasalnya, para anak didik dari generasi masa kini adalah tipe yang sangat mudah mencari informasi, namun belum bisa mengelola bagaimana informasi itu. Sikap dan perilaku yang mereka miliki serba instan serta sedikit belajar tentang proses dan kesabaran.

Guru, pendidik, pengajar, mubaligh-mubalighot, orang tua serta lingkungan pada situasi ini sangat berperan dalam mengingatkan serta mengarahkan tentang sikap dan perilaku tersebut. Dalam basis informasi dan pengetahuan, anak harus diperkenalkan berbagai jenis keterampilan belajar, sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan dengan informasi itu.

Pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah tugasnya mengajarkan hal-hal diluar akademis. Pengalaman untuk mengalami proses itu yang harus diajarkan. Membangun pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan dan karakteristik siswa melalui perspektif mereka.

Pembelajaran yang meningkatkan subyektivitas siswa untuk mengeluarkan kemampuan otentik mereka. Dan membangun kelincahan (agility) untuk menghadapi tantangan dan dunia yang terus berubah.

Pendidik harus bisa menguasai metode pembelajaan kreatif. Ide metode pembelajaan kreatif memiliki dua makna, pembelajaran kreatif dan membelajarkan kreatif. Pembelajaran kreatif lebih melibatkan peranan guru dalam membuat proses pembelajaran di dalam kelas menjadi menarik bagi peserta didik, lebih efektif dan menggunakan pendekatan imajinatif.

Sebaliknya membelajarkan kreatif lebih menekankan kemampuan guru dalam mengidentifikasi kekuatan kreativitas peserta didiknya, memperkuat daya kreatifnya dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mewujudkannya.

Pendidik harus bisa membuat siswa lebih ideasi. Proses ini bertujuan untuk menghasilkan sejumlah besar ide yang berpotensi menginspirasi ide-ide baru yang lebih baik, yang kemudian dapat dipilih menjadi ide-ide terbaik, paling praktis dan inovatif, menggunakan kreativitas.

Pendidik juga dituntut memiliki sifat empati untuk memahami kebutuhan dan karakteristik siswa melalui perspektif mereka. Kemampuan untuk melihat dunia melalui mata orang lain, melihat apa yang mereka lihat, merasakan apa yang mereka rasakan, dan mengalami hal-hal seperti yang mereka lakukan. Juga membangun kesadaran siswa bahwa belajar itu berorientasi menjadi pembelajar seumur hidup.

Kurikulum

Kurikulum adalah serangkaian pengalaman belajar yang ingin diciptakan di kelas. Sifatnya tidak statis, melainkan proses berkelanjutan yang cenderung berubah, sehingga desain ulang dan pembaruan sangat penting untuk pengembangan kurikulum. Kurikulum bukan eksperimen “satu-dan- selesai dilakukan”. Ini adalah perjalanan pengalaman dalam proses pengembangan.

Karena kurikulum selalu berubah sesuai dengan lingkungannya, maka kurikulum juga dapat dilihat sebagai entitas yang hidup. Kurikulum harus memungkinkan aktualisasi diri siswa pada tingkat maksimum, berpusat pada siswa, menarik, menantang, memotivasi, dan mengakomodasi perbedaan individu dalam tingkat pembelajaran.

Inilah mengapa sudah saatnya kita memikirkan kembali bagaimana proses pembelajaran yang seharusnya terjadi di dalam dunia pendidikan di era sekarang. Peran guru bagaimanapun tidak bisa digantikan dengan teknologi. Proses pembelajaran yang konvensional atau tradisional yang ada saat ini sudah saatnya harus diubah mengikuti perkembangan zaman.