Menikah, Kepentingan Agama atau Hati?

Nasehat menikah
Pernikahan (Foto: Instagram/anisarahma_12)

Menikah tak melulu soal hati. Persoalan agama jauh lebih penting daripada hati. Lalu, bagaimana menyesuaikan diri jika memilih pasangan tidak dengan hati?

Menikah bukan sekadar penyatuan komitmen antara laki-laki dan perempuan. Namun juga komitmen dengan Allah. Sebab saat dua insan menjalin hubungan yang berlandaskan saling mensurgakan, maka Allah melibatkan diri di dalamnya.

Diperkuat dalam Alquran surat Mujaadalah ayat 7 yang menjelaskan bahwa setiap ada tiga orang yang berbisik-bisik, maka Allah menjadi yang keempat, dan bila ada lima orang yang berbincang maka Allah menjadi yang keenam. Artinya Allah tahu apa yang mereka bicarakan karena Allah lebih banyak bersama mereka. Nantinya Allah akan menceritakan apa yang mereka kerjakan (di hari kiamat).

Maka perlu mencari pasangan yang ‘seiman’. Dalam arti, mempunyai pemahaman yang sama, terutama agama. Karena akan sulit menyatukan pemahaman jika berbeda.

Contoh, waktunya salat atau ibadah. Jika yang satu paham, yang satu tidak, maka tidak bisa dikatakan saling mensurgakan. Padahal, seharusnya pasangan itu bisa mengajak pada kebaikan, menghindari hal-hal yang haram.

Seperti tercantum dalam surat Taubah ayat 71, “Orang iman laki-laki dan perempuan satu sama lain adalah kekasih. Yang mana saling perintah pada kebaikan, menetapi salat, mendatangkan zakat, mau taat pada Allah dan Rasul. Mereka itu orang-orang yang disayangi oleh Allah dan Rasulnya. Allah itu Maha Perkasa lagi Menghukumi”

Jangan menikah karena cakepnya. Karena cakep bisa hilang. Wajah akan keriput dan gigi bisa ompong.

Jangan menikah karena hartanya. Karena uang bisa habis. Kekayaan akan ditinggal.

Jangan menikah karena pandainya. Karena pandai bisa hilang. Orang bisa pikun.

Tapi menikahlah karena agamanya, karena ingin bersamanya hingga di surga.

Karena itu, generasi muda harus bisa mengoreksi diri, apakah menikah itu didasari kepentingan agama atau kepentingan hati semata? Hal ini kembali pada diri masing-masing. Jika Allah dijadikan ‘teman komunikasi’, maka sakinah, mawadah, warahmah lebih mudah terwujud.

2 Comments

Leave a Reply

Leave a Reply