Generasi Instan

Memasuki industri 4.0 kemajuan teknologi akan mengubah cara manusia hidup dan bekerja. Tantangan zaman akan berubah, dunia menjadi ‘Global Village’ tersendiri. Lalu, sudahkah kita bersiap menghadapi tantangan di zaman yang serba instan?

Sekarang semua serba instan. Ada kopi instan, mie instan, bumbu instan, nasi instan, bubur instan, dan lain-lain. Semua juga serba remote. Ada remote TV, remote AC, remote mobil, remote motor, remote kipas angin, remote pagar, remote pintu, dll.

Untuk membeli makanan dan barang sekarang tidak perlu lagi datang ke toko atau rumah makan, cukup dengan aplikasi pesanan yang diinginkan akan diantar ke rumah.

Nonton video pun sangat mudah. Dulu, orang harus ke balai desa untuk lihat TV. Jalan jauh demi melihat kotak besar yang ada gambar geraknya. Itu juga siaran khas pedesaan seperti bertani dan berternak. Jarang sekali ada film, musik, atau drama TV. Sekarang, anak-anak bisa pilih aneka tontonan secara instan. Cukup klik, klik, dan klik di Youtube.

Zaman yang berubah dan serba instan dapat mempengaruhi pola hidup seseorang. Anak kadang lebih memilih menyelesaikan pekerjaan atau tugasnya dengan tinggal copy paste dari internet. Dampaknya anak jadi malas belajar dan membaca buku.

Proses instan menjadikan pribadi seseorang yang dikenal dengan mental instan. Mental instan terbentuk karena terbiasa mengerjakan sesuatu dengan instan daripada melalui sebuah proses. Tidak mau repot, capek, dan ingin semuanya serba cepat tanpa mempedulikan bahwa segala sesuatu itu perlu proses dan butuh waktu.

Pemilik mentalitas instan pun kerap mengabaikan kenyataan bahwa ada aturan dan tahap dalam setiap hal. Mereka cenderung selalu berusaha mencari jalan pintas untuk mencapai tujuannya.

Pertanyaannya, bagaimana jika anak-anak tumbuh dan dibesarkan dalam dunia yang serba instan? Minim proses dan perjuangan? Jarang bergerak dan berkeringat? Kurang tantangan dan tekanan?

Takutnya mereka jadi lemah. Baik lemah fisik maupun mental. Walhasil, aneka masalah kehidupan bakal sulit dihadapi. Ada tekanan sedikit langsung jatuh, down, dan putus asa. Yang dipikir hanya cara instan, instan, dan instan.

Menurut psikolog Hj. Sri Tresnahati Ashar, M.Si. “Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendidik anak di zaman yang serba instan. Yang paling kuat adalah komunikasi sebagai alat utama dalam membangun hubungan antara orangtua dan anak, memperkuat trust serta saling mentransfer informasi.”

Pada keluarga, terkadang orangtua sibuk dengan dirinya dan mengabaikan pendidikan keluarga untuk anak-anak mereka. Banyak orangtua sekarang ingin instan, semua tinggal dibayar dengan uang. Mereka hanya tau bekerja dan berharap pulang kerja menemukan anak-anaknya menjadi anak-anak yang pintar, berkarakter baik, dan berakhlak mulia.

Mereka lupa bahwa semua itu tidak dapat terjadi secara instan. Mereka lupa bahwa perlu peran orangtua untuk melalui proses mendidik anak, bagaimana orangtua berkomunikasi dengan anak dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan agama, bagaimana orangtua lewat beribadah bersama menuntun anak-anak untuk menjadi pribadi yang saleh.

Pendidikan keluarga tidak boleh mengabaikan proses. Orangtua harus mengajarkan anak-anaknya untuk berpikir, mengapa begini? Mengapa begitu? Berawal dari pemikiran demikian, orangtua perlu mendorong anak untuk bagaimana melakukan proses tersebut. Dengan demikian, orangtua dapat berhasil mengajarkan anak-anak dengan melewati serangkaian proses.

Bersyukur bagi orangtua yang mampu mendidik anak untuk sabar dalam berproses. Kuat dalam meraih cita. Berani dalam menghadapi ujian. Ikhlas dalam menjalani cobaan.

Mencintai anak adalah menjadikan mereka kuat. Bukan me-nina-bobok-kan hingga menjadi generasi yang lembek. Generasi yang maunya serba instan.

Leave a Reply